Silicon Valley is Toxic

Perkenalkan saya Indra, pemerhati kehidupan social media dan startup di Indonesia dan Dunia. Saya bukan orang ternama di tanah air ini, atau orang berpengaruh di komunitas IT atau komunitas lain di Indonesia.

Semakin hari, semakin banyak bertebaran postingan tentang startup di timeline saya. Mulai dari aktivis, pendanaan baru, gerakan membangun startup, saling ejek sesama movement, programmer-programmer handal bermunculan dan lainnya. Ini karena Google dan Facebook.

Kebetulan saya sedang menggeluti dunia startup di Indonesia, sebut saja KelasKita.com. Menjadi orang yang terjun langsung membuat saya banyak belajar bagaimana sulit yang sebenarnya. Kadang artikel yang saya baca tidak sesuai dengan kondisi yang saya rasakan, yah mungkin memang begitu. But, itu jadi pelajaran buat saya. Ohiya, kebetulan saya bukan ikutan trend startup kebanyakan. Bangun produk lalu pendanaan. Murni dari project socialnya Ali Kusnadi, lalu rejeki menghampiri kami untuk menjadikan KelasKita.com sebagai startup.

Entah kenapa, startup di Indonesia menjadikan dirinya ala-ala Google atau Facebook. Entah saya yang rasakan atau pembaca juga merasakan hal yang sama ? hmmmm

Google dan Facebook besar dari ide yang sederhana, masalah yang sederhana dan tidak terlalu kompleks. Setelah melihat kiprah sukses nya mereka, saya sadar kalau startup itu bentuk bisnis yang flexible. Melihat opportunity yang ada dihadapan mereka dan menjadikannya mesin pencetak angka dollar. Dan sayangnya, di Indonesia banyak startup yang "Ingin menjadi" atau "Kelebihan produk kita di banding" dan akhir nya tidak menjadi diri sendiri. Mereka tidak kembali ke hakikatnya solusi yang ingin mereka bangun bukan mengkopi apa yang sudah ada.

Ya, walaupun banyak produk yang sama seperti mesin pencarian, e-commerce, layanan server, layanan transportasi, edukasi dan lainnya. Semua yang dibangun hampir sudah dibuat sebelumnya tapi apa yang membuat semuanya berbeda ? *ini PR yah :p

Booming nya wilayah startup di Amerika Serikat yang bernama Silicon Valley membuat orang-orang di Indonesia termasuk pemerintahan ingin menciptakan Silicon Valley di Indonesia. Tujuannya hanya satu "Mengumpulkan startup dalam satu wilayah". Padahal bukan itu, "Silicon Valley itu Racun"

Ya, racun untuk sebuah solusi, inovasi dan kolaborasi. Saya tulis ini saya buat stelah menonton video yang berjudul Welcome to Silicon Valley sampai habis.

Video di atas tidak menunjukan sebuah kesuksesan perusahaan besar dengan pendanaan besar. Tapi lebih ke semangat menciptakan solusi, inovasi dan kolaborasi. Sebenarnya yang saya harapkan dari orang-orang yang pulang haji dari Silicon Valley bukan untuk mendengar cerita bagaimana hebatnya kantor Google atau kerennya kantor Facebook. Saya ingin mendengar cerita bagaimana caranya menyebarkan racun Silicon Valley untuk anak-anak muda di Indonesia. Sayangnya sampai saat ini belum ada yang bercerita tentang itu.

Kalau Silicon Valley merupakan kawasan dengan ribuan inovasi di software, lain halnya dengan Silicon Valley di Shenzhen. Semangat di Shenzhen adalah menciptakan inovasi, solusi dan kolaborasi di ranah Hardware. Ya, kenapa banyak produk kopi-paste yang lahir dari sana. Sedikit mendengar cerita orang German yang saya temui di Hong Kong beberapa bulan lalu, kata yang saya kutip dari mereka adalah seperti ini "Pembuat handphone disana kebanyakan industri rumahan". Bagaimana bisa ? di Indonesia saja sulit untuk membuat Industri elektronik di rumah, bahkan si pembuat tv saja di pidana, pencipta mobil listrik saja di sangka korupsi. Percuma menyuarakan Indonesia akan menjadi digital ekonomi terbesar di asia tenggara kalau hal yang seperti itu saja tidak di dukung. Kemon, orang Indonesia butuh bimbingan. Hal yang bersifat inovasi jangan langsung di pidana, tapi di bina. Dan saya lebih heran, inovasi nyeduh kopi dengan campuran sianida sampai saat ini masih bertebaran bahkan ada live streaming youtube nya. Sedangkan sang inovator motor penggerak malah tidak ada live streaming tentang kehidupannya.

Video yang kedua ini adalah racun Silicon Valley yang ada di Shenzhen. Ini sebenarnya harus terjadi di Indonesia.

Jadi curhatan kali ini agak bener. Hahahaha

Ohiya, KelasKita.com berusaha mengkopi racun yang ada di Silicon Valley, mangkannya kami buat platform collaborative content untuk pendidikan. Besar harapannya akan ada banyak inovasi baru dalam membuat konten edukasi digital, semangat berbagi dan kolaborasi terjadi di KelasKita. Jadi gak cuma bicara teori tapi aksi juga. *hasek

Semoga bermanfaat, dan kamu jangan lupa belajar ya, kerjanya yang baik. Biar bahagianya gak di kantor, tapi dirumah. See you and love you!

Salam,
Indra :-)

comments powered by Disqus