IPK "Cuma" Administrasi

Belajar itu tanpa batas, institusi pendidikanlah yang mengkotak-kotakan. Kebiadaban pelajar yang selalu menjerit soal "Saya takut punya nilai kecil". Tolak ukur yang selalu di ukur dengan angka bukan kontribusi.

Belajar itu, dari mulai lahir sampai mati. Tak ada ukuran ketika nilai mu kecil, kamu harus berhenti untuk belajar. Karena saya orang muslim, dalam Al-Qurat dan Hadits pun saya belum pernah menemukan kalau tolak ukur ilmu seseorang itu di ukur dari sebuah nilai.

Bosan dengan batasan minimal IPK, minimal Nilai. Entahlah, saya masih bosan dengan sistem pendidikan yang ada. Memaksa pelajar-pelajar teladan berbuat curang demi sebuah nilai. Saya termasuk orang yang tidak pernah peduli dengan nilai. Bahkan demi lulus 4 tahun pada saat bangku kuliah, saya tetap bangga dengan nila "D" yang terlampir dalam transkrip nilai akhir.

IPK yang saya miliki tidak pernah masuk daftar yang lolos screening cv di sebuah perusahaan. Dan saya tak pernah menggunakan Ijazah saya untuk dilampirkan di sebuah CV. Saya percaya dengan kemampuan yang saya miliki. Bukan ijazah yang saya miliki. Bukan karena perguruan tinggi yang pernah saya jejaki. Tapi saya yang ingin membuktikan kepada diri sendiri, kalau sebuah kesukses bukan di ukur dari sebuah IPK.

Karena ketidak pedulian saya terhadap nilai, saya mencoba ikut terjun membantu teman saya dalam membangun sebuah platform pemebelajaran bernama KelasKita. Keikut sertaan saya dalam membangun KelasKita adalah, karena keinginan besar untuk memberikan kualitas pendidikan yang layak.

comments powered by Disqus